Jombang, 26 Mei 2026 – Riuh Gembira di Balik Sepiring Harapan
“Bu, kapan kita mendapatkan MBG?”
Pertanyaan sederhana itu nyaris setiap hari terdengar di sudut-sudut kelas. Di sela pembelajaran, saat istirahat, bahkan ketika guru baru memasuki ruang kelas, pertanyaan tersebut kembali mengemuka. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memang belum genap setahun berjalan, tetapi gaungnya telah lebih dulu sampai ke telinga siswa. Di sejumlah lembaga pendidikan, program ini telah terlaksana. Sementara itu, bagi siswa MTsN 5 Jombang, Senin, 25 Mei 2026 menjadi hari yang dinanti: hari pertama hadirnya MBG.
Kehadiran program tersebut tidak datang begitu saja. Ada proses yang berlangsung di balik layar. Dimulai dari pendataan jumlah siswa oleh pihak penyelenggara MBG kepada madrasah, respons cepat segera dilakukan. Setelah data diverifikasi, agenda pembagian pun ditetapkan untuk hari berikutnya. Sesuatu yang sebelumnya hanya menjadi bahan obrolan para siswa mendadak berubah menjadi kenyataan.
Sejak pagi, suasana madrasah terasa berbeda. Koordinasi dilakukan oleh kepala madrasah bersama Kepala Urusan Tata Usaha dan unsur pimpinan lainnya agar pembagian berjalan tertib. Secara teknis, pegawai madrasah menyiapkan lokasi distribusi di hall. Dari sinilah sistem pembagian disusun dengan rapi. Pengurus kelas—ketua kelas, sekretaris, dan bendahara—ditugasi mengambil jatah untuk kelas masing-masing. Mereka berjalan membawa wadah makanan menuju ruang kelas dengan langkah cepat, seolah sedang membawa sesuatu yang amat berharga.
Sesampainya di kelas, suasana mendadak berubah riuh.
“Alhamdulillah, dapat MBG!”
Seruan bahagia hampir terdengar serempak dari berbagai ruang belajar. Ada wajah-wajah sumringah, ada tawa kecil yang mengiringi, dan ada pula ekspresi tak sabar ketika wadah makanan mulai dibuka. Bagi sebagian siswa, momen itu terasa lebih dari sekadar menerima makan siang. Ada rasa penasaran yang akhirnya terjawab sekaligus kebahagiaan kecil yang sederhana.
Hari pertama MBG tiba sekitar pukul 10.30 WIB. Sajian dikemas dalam wadah stainless yang tampak bersih dan higienis, memberi kesan rapi sekaligus aman digunakan. Isi menunya pun cukup lengkap: nasi hangat, sayur wortel dan sawi, lauk tahu serta ayam goreng, dilengkapi sepotong buah semangka sebagai penutup. Menu sederhana itu ternyata mampu menghadirkan kebahagiaan yang tidak sederhana.
Bentuk kegembiraan siswa pun beragam. Ada yang berseloroh bahwa kini mereka tidak perlu repot membawa bekal dari rumah. Sebagian merasa senang karena tidak perlu lagi pergi ke kantin sehingga uang saku bisa lebih hemat. Bahkan, ada siswa yang mengaku semakin bersemangat datang ke sekolah karena ingin menikmati MBG bersama teman-temannya.
Di balik suasana riuh dan penuh antusias itu, sesungguhnya tersimpan tujuan besar. Program MBG bukan sekadar membagikan makanan, melainkan menghadirkan perhatian terhadap kebutuhan gizi peserta didik. Perut yang kenyang diharapkan menghadirkan fokus belajar yang lebih baik, energi yang cukup, serta semangat untuk mengikuti pembelajaran sepanjang hari.
Pada akhirnya, hadirnya MBG bukan hanya soal nasi, lauk, atau buah yang tersaji di atas meja. Lebih dari itu, program ini menghadirkan rasa diperhatikan, menumbuhkan semangat kebersamaan, dan menjadi bagian dari upaya menciptakan generasi yang sehat dan siap belajar dengan optimal. Sebab, siswa yang sehat akan memiliki kesempatan lebih besar untuk tumbuh, belajar, dan melangkah mantap meraih masa depan.
(AZ)

